Indonesia memiliki keragaman budaya yang tersebar di berbagai pulau. Aceh sebagai sebuah daerah di ujung Pulau Sumatera turut memperkaya khasanah kebudayaan Nusantara. Keragaman budaya Aceh bersumber dari kekayaan alam dan lingkungan yang memebntuk budaya dan peradaban manusianya.

Akulturasi dan integrasi berbagai unsur suku membentuk kesatuan budaya lokal Aceh yang unik. Namun seiring perkembangan zaman, asal usul keragaman budaya semakin kurang dipahami oleh masyarakat Aceh itu sendiri, sementara jumlah sumber daya manusia kebudayaan atau orang-orang yang memahami kebudayaan asli semakin menyusut karena faktor usia, termarginalkan, atau kurangnya apresiasi dan ruang bagi mereka. Jarang sekali kita melihat pemuda Aceh saat ini yang mau berprofesi di bidang kebudayaan; seperti menjadi seorang pawang, keujruen blang, seulangkee, panglima laot, dan sebagainya; pun di bidang seni, sulit ditemui anak muda yang menjadi syeh untuk suatu tarian. Ini kondisi yang memprihatinkan bagi daerah yang kaya budaya.

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) pun digelar sejak 1958, sebagai salah satu upaya merespon kondisi tersebut. PKA mengambil peran untuk meningkatkan harga diri dan martabat masyarakat Aceh sebagai bangsa Indonesia yang merdeka dan bersatu melalui dimensi kebudayaan.

Melalui PKA, para budayawan dan seniman, baik pencipta maupun pelaku, dapat mengapresiasikan keahliannya masing-masing dalam memajukan kebudayaan di daerah. Sejumlah atraksi, seminar, bazar, lomba, forum, pameran, dan pertunjukan tentang kebudayaan Aceh ditampilkan dalam setiap event PKA. Ragam kebudayaan dari berbagai daerah di Aceh akan memukau pengunjung baik dari lokal, nasional, maupun internasional, kerena event lima tahunan ini menghadirkan peserta dari seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Dari awal, pelaksanaan PKA bertujuan untuk merumuskan kembali pengembangan pembangunan Aceh yang berlandaskan nilai-nilai budaya masyarakat. Dasar tujuan ini tidak berubah hingga PKA terus bergulir sampai sekarang, hanya pelaksanaannya yang dikembangkan dan disesuaikan dengan era atau kebutuhan zamannya. Pengembangan dan format rangkaian kegiatan juga berubah-ubah untuk menggali tradisi dan melestarikan berbagai tradisi yang hampir punah.

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi turut mempengaruhi unsur-unsur kebudayaan suatu daerah higga mengalami perubahan, bahkan bisa menggeser nilai dari keaslian budaya itu sendiri. Sebagai upaya pelestarian dan penguatan kembali unsur-unsur kebudayaan Aceh, maka PKA kali ini mengangkat tema “Revitalisasi Budaya Aceh yang Islami”. Tema ini menjadi penting karena kebudayaan Aceh sangat identik dengan nilai-nilai agama (religi), di mana Islam telah banyak memberi pengaruh dalam perjalanan dan perkembangan kebudayaan Aceh itu sendiri.

Kiranya, PKA menjadi moment yang tepat untuk menegaskan dan menunjukkan keragaman kebudayaan Aceh, untuk orang Aceh sendiri maupun masyarakat internasional.

© 2018 Pekan Kebudayaan Aceh. All Rights Reserved