Aceh secara geografis berada di wilayah paling barat Pulau Sumatera. Sebelah utara dan timur berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah barat dengan Samudera Hindia, dan sebelah selatan satu- satunya perbatasan darat dengan Provinsi Sumatera Utara. Sebagai bagian dari wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia, Aceh merupakan sebuah provinsi yang saat ini memiliki 23 kabupaten/kota.

Orang Aceh merupakan penduduk pribumi yang mendiami atau berasal dari Provinsi Aceh. Mereka terdiri dari berbagai suku yang tersebar di beberapa wilayah budaya. Suku Aceh mendominasi bagian utara dan timur; Suku Gayo mendiami kawasan pegunungan bagian tengah provinsi Aceh dan sekitarnya; Suku Alas menempati kawasan Aceh Tenggara dan sekitarnya; Aneuk Jamee mendiami Kabupaten Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan sekitarnya; Kluet mendiami Kabupaten Aceh Selatan dan sekitarnya; Tamiang mendiami Kabupaten Aceh Timur dan sekitarnya; serta Singkil berada di Singkil dan Subulussalam.

Orang Aceh juga memiliki keunikan dari tampilan fisiknya. Beberapa literatur menyebutkan, “Aceh” adalah singkatan setiap huruf awal dari empat bangsa Arab, Cina, Eropa, dan Hindia. Hal ini didasari pada penampilan wajah orang Aceh yang sebagian mirip keturunan empat bangsa tersebut.

Jika ditelaah, masuknya empat unsur bangsa asing dalam identitas orang Aceh ada kaitannya dengan sejarah para pendatang di masa lampau. Arab merupakan tempat agama Islam berasal dan Aceh menjadi daerah pertama kali Islam berkembang di Nusantara. Cina telah melakukan hubungan dengan Aceh baik dalam perdagangan maupun pertukaran budaya. Sementara itu, Aceh sudah memiliki hubungan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di Eropa jauh sebelum era kolonial. Sedangkan Hindia atau India berawal dari kedatangan orang-orang India untuk berdagang maupun membawa dakwah Islam. Sampai hari ini, sebagian orang Aceh masih memiliki ciri-ciri tersebut.

Orang Aceh menjalani hidup secara berkelompok dan menjunjung tinggi kehidupan majemuk (plural societies). Mereka memiliki kekhasan masing-masing dalam bidang bahasa, seni, tradisi, tari, dan musik. Namun beberapa unsur yang berbeda itu juga mengalami akulturasi sehingga adanya kemiripan unsur di antara beberapa suku tersebut. Setidaknya ada 13 suku di Aceh untuk saat ini.

Aceh adalah suku mayoritas di Provinsi Aceh. Suku ini dikategorikan dalam rumpun bangsa Melayu. Suku Aceh memiliki seni dan budaya yang khas, baik alat musik, nyanyian, tarian, maupun tradisi. Nyanyian tradisional yang terkenal antara lain bungong jeumpa; sedangkan tari populer diantaranya seudati, rapai pase, dan ranup lampuan. Suku Aceh bertutur dengan Bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga Bahasa Austronesia. Dalam mengatur alur keturunan atau kekerabatan, suku Aceh menggunakan model patrilineal (dari pihak ayah) dan matrilineal (dari pihak ibu).
Suku Gayo menghuni wilayah Dataran Tinggi Gayo, dikenal dengan Daerah Dingin. Sebaran masyarakatnya berada di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Suku ini juga mendiami 3 kecamatan di Aceh Timur, yaitu Kecamatan Serbe Jadi, Peunaron dan Simpang Jernih, serta beberapa desa di Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara. Dalam hal kekerabatan, Suku Gayo mengambil garis keturunan patrilineal. Mereka memiliki ciri-ciri berbadan tegap dan berkulit putih seperti perawakan orang Eropa. Orang Gayo bertutur dengan Bahasa Gayo yang termasuk dalam kelompok bahasa “Northwest Sumatera-Barrier Islands” dari rumpun bahasa Austronesia. Suku Gayo juga mempunyai kebudayaan dan adat istiadat yang khas. Mereka misalnya dikenal memiliki kekayaan budaya cerita tutur berupa hikayat seperti Hikayat Malem Diwa, Putri Pukes, dan Atu Belah. Adapun dari kesenian, Gayo memiliki Tari Saman yang mendapat pengakuan sebagai salah satu budaya warisan dunia takbenda.
Suku Aneuk Jamee menyebar di pesisir barat dan selatan Aceh. Sebutan “Aneuk Jamee”dipopulerkan oleh Suku Aceh yang mendiami wilayah tersebut. Ini wujud dari sifat keterbukaan Orang Aceh dalam memuliakan kelompok pendatang asal Sumatera Barat. Secara harfiah, istilah Aneuk Jamee berasal dari Bahasa Aceh yang berarti “keturunan tamu/pendatang”. Ada yang menyebut kedatangan mereka karena melarikan diri dari Perang Paderi; perantau dan pedagang, serta para penuntut ilmu agama. Suku Aneuk Jamee menggunakan Bahasa Jamee yang diperkirakan hasil akulturasi dengan bahasa Minangkabau. Penggunaan bahasa ini dapat ditemui di wilayah Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Simeulue, Singkil, dan Subulussalam. Meski berbeda bahasa, namun dalam tradisi masyarakatnya, suku Aneuk Jamee ini lebih dekat dengan adat dan budaya Aceh dibandingkan dengan Minang.
Alas adalah suku mayoritas yang bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara, juga lazim disebut Tanah Alas. Kata “alas” dalam Bahasa Alas berarti “tikar”. Hal ini ada kaitannya dengan geografis daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satunya Lawe Alas (Sungai Alas). Masyarakat Alas bertutur dengan Bahasa Alas (Cekhok Alas). Ini merupakan bagian rumpun bahasa Austronesia, bahasa yang hampir sama dipakai oleh Suku Kluet di Aceh Selatan. Bahasa ini memiliki banyak kesamaan kosakata dengan Bahasa Karo di Sumatera Utara. Masyarakat Alas memiliki tradisi in-group relation yang unik. Suatu kute (desa) biasanya didiami oleh satu atau beberapa klan, yang disebut merge. Anggota satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Mereka menarik garis keturunan patrilineal, yaitu garis keturunan laki-laki. Orang Alas juga menganut adat eksogami merge, artinya jodoh harus dicari di merge lain.
Suku ini mendiami Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka lebih sering disebut Melayu Tamiang karena memiliki kesamaan dari bahasa, seni, dan budaya dengan masyarakat Melayu Sumatera Utara, Melayu Riau, dan Melayu Malaysia. Dari segi kebudayaan, mereka juga sama dengan masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera lainnya. Nama Tamiang berasal dari julukan kepada seorang raja taklukan Kerajaan Pasai, yaitu Raja Muda Sedia (1330-1352). Raja ini memiliki tanda hitam (Aceh: itam) di bagian pipinya (Aceh: mieng). Orang Kerajaan Pasai menjulukinya “Si Itam Mieng” sehingga lama-kelamaan ucapannya berubah menjadi “tamieng” atau tamiang. Namun ada juga yang mencatat, Suku Tamiang merupakan Suku melayu pendatang (imigran) di Aceh.
Suku Kluet mendiami beberapa kecamatan di kabupaten Aceh Selatan, yaitu kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah, dan Kluet Timur. Mereka menggunakan Bahasa Kluet yang terdiri dari tiga dialek berbeda, yaitu dialek menggamat, dialek krueng kluet, dan dialek paya dapur. Kekerabatan Orang Kluet berkaitan erat dengan Suku Alas dan Singkil. Secara geografis, wilayah Kluet tidak jauh dari Singkil dan wilayah yang didiami suku lain seperti Batak. Karena itu, budaya Kluet juga relatif memiliki kedekatan dengan budaya Alas dan Karo serta Pakpak Singkil. Suku Kluet juga mempunyai sistem kekerabatan matrilineal dan patrilineal. Salah satu kesenian terkenalnya adalah Mecanang Gung yang biasanya ditampilkan saat acara pernikahan dan acara keagamaan.
Suku ini mendiami Kabupaten Simeulue, tersebar di Kecamatan Teupah Barat, Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Teupah Selatan dan Teluk Dalam. Orang Devayan secara fisik mirip dengan Suku Nias (Sumatera Utara) dan Mentawai (Sumatera Barat), yang khas dengan kulit berwarna kuning dan mata agak sipit. Ciri-ciri ini melekat pada hampir seluruh penduduk yang mendiami pulau dan kepulauan di pesisir barat Pulau Sumatera. Suku Devayan bersama suku-suku dari bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) lainnya seperti Nias, Mentawai dan Enggano, diperkirakan migrasi dari daratan Indochina ke barat Pulau Sumatera berabad-abad silam hingga kemudian membentuk beberapa suku lainnya di tempat baru. Suku Devayan menggunakan Bahasa Devayan yang berkerabat dengan Bahasa Nias. Mereka hidup berdampingan dengan suku lain di Simeulue, yaitu Lekon dan Sigulai, serta Haloban di Kepulauan Banyak.
Suku ini mendiami Desa Lafakha dan Desa Langi, Kecamatan Alafan, Kabupaten Simeulue. Suku ini diperkirakan hadir di Simeulue bersama-sama dengan Suku Devayan, Sigulai dan Haloban, juga Suku Nias, Mentawai dan Enggano, dalam perjalanan migrasi bangsa Proto Melayu dari daratan Indochina berabad silam. Secara fisik Suku Lekon berkulit kuning dan bermata agak sipit, menunjukkan mereka termasuk dalam ras mongoloid, seperti suku Devayan, Sigulai, Haloban, Nias, Mentawai dan Enggano. Dari segi percakapan, Bahasa Lekon sering dianggap sebagai dialek dari Bahasa Devayan, karena memiliki beberapa kesamaan dari perbendaharaan kata dan dialek. Namun warga Lekon juga bisa berbicara dalam Bahasa Aneuk Jamee dan Bahasa Devayan.
Suku ini mendiami wilayah utara Kabupaten Simeulue, yaitu di Kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang. Suku Sigulai sering disebut juga Suku Salang. Mereka merupakan suku asli di Kepulauan Simeulue, berdampingan dengan suku Devayan dan Lekon. Suku ini juga diperkirakan berasal dari rombongan migrasi bangsa Proto Melayu. Sehingga, orang Sigulai secara fisik tak berbeda dengan ciri-ciri masyarakat Nias, Mentawai, Devayan, Lekon dan Haloban. Mereka menggunakan Bahasa Sigulai, yang masih bersaudara dengan bahasa Devayan, Lekon, dan Nias. Meskipun mereka berbeda sukunya, tetapi masih mempunyai kemiripan dalam perbendaharaan kata juga dialeknya.
Suku ini terdapat di Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil. Muasal Suku Haloban juga sama dengan riwayat Suku Devayan, Lekon, dan Sigulai. Suku Haloban sampai sekarang masih melestarikan bahasa aslinya, yaitu Bahasa Haloban, meskipun berada di tengah dominasi Bahasa Aneuk Jamee dan Bahasa Aceh. Tradisi, adat istiadat dan seni-budaya suku Haloban sangat dipengaruhi oleh budaya dari agama Islam, yang disebarkan oleh masyarakat pendatang dari Aceh serta Minang. Selain Islam, di Haloban terdapat satu kampung yang dihuni Kristiani dari Nias, tepatnya di Kampung Sialit. Namun, suku dengan dua agama berbeda itu menjunjung kerukunan umat beragama, yang saat ini masih hidup berdampingan dan harmonis.
Ini merupakan suku mayoritas di Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam. Suku Batak Singkil merupakan komunitas masyarakat yang bermukim di Singkil terutama di Kecamatan Singkil, Simpang Kiri, Simpang Kanan dan Pulau Banyak. Penduduk Singkil hidup berdampingan dengan suku Gayo dan Alas. Bahkan mereka memiliki kemiripan dari segi fisik, tradisi dan budaya. Orang Singkil menggunakan Bahasa Singkil, yang termasuk dalam kelompok rumpun Bahasa Batak Utara. Dari kosakatanya, Bahasa Singkil berkerabat dengan Bahasa Pakpak di Sumatera Utara. Namun antara adat istiadat dan kebudayaannya, Suku Singkil berbeda dengan Pakpak. Dalam menjalani kehidupan, masyarakat Singkil banyak mengalami akulturasi dengan suku-suku tetangganya, seperti Gayo, Alas, Aceh, Aneuk Jamee, Nias, Mandailing, Melayu dan Minang. Ragam suku yang mendiami Singkil itu hanya berbeda bahasa, selebihnya merela mengikuti adat dan budaya Singkil.
Suku Pakpak Singkil mendiami sebagian wilayah Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam. Suku ini bagian dari Keluarga Suku Pakpak asal Sumatera Utara. Bila dikaji lebih jauh, suku Pakpak diperkirakan berasal dari keturunan tentara Kerajaan Chola asal India Selatan yang menyerang kerajaan Sriwijaya pada abad 11. Ketika Kerajaan Sriwijaya runtuh pada tahun 1337 M, menyebabkan penyeberan kelompok masyarakat, di antaranya Suku Pakpak, yang kemudian masuk ke wilayah Pakpak, Karo dan Alas. Mereka menggunakan Bahasa Pakpak Boang, yang mirip Bahasa Karo dan Bahasa Alas.
Ini merupakan suku minoritas di daratan Kabupaten Aceh Singkil. Suku Julu sering disebut bagian dari Suku Batak Singkil, Suku Pakpak, dan terkadang disamakan dengan Suku Pakpak Boang. Namun mereka menegaskan bahwa Julu berbeda dengan suku-suku itu terutama dalam hal kebudayaan. Dari segi bahasa sehari-hari, Bahasa Julu lebih berkerabat dengan Bahasa Pakpak. Suku Julu saat ini sebagian besar memeluk agama Islam, akibat pengaruh dari budaya dan tradisi masyarakat di Kabupaten Aceh Singkil yang pada umumnya beragama Islam. Tetapi adat dan budaya Suku Julu sampai saat ini masih tetap dipertahankan, sebagaimana terdapat dalam Budaya Pakpak.

Keragaman suku di Aceh menjadi daya tarik tersendiri bagi Provinsi Aceh. Baik untuk persatuan orang Aceh maupun objek kajian atau wisata bagi masyarakat luar. Pekan Kebudayaan Aceh 2018 adalah moment terbaik bagi masyarakat Aceh untuk saling mengenal antarsuku di daerahnya sekaligus ajang bagi wisatawan untuk lebih mengenal siapakah orang Aceh sebenarnya.

© 2018 Pekan Kebudayaan Aceh. All Rights Reserved