Religi | Sebagai Fokus Kebudayaan Aceh

Ada satu konsep yang selalu dibahas dalam diskursus karakteristik kebudayaan suatu suku bangsa. Konsep ini dikenal dengan “Fokus Kebudayaan”, yang dipopulerkan pertama kali oleh antropolog AS, M J Herskovits.

Dalam definisi sederhana, fokus kebudayaan adalah suatu unsur kebudayaan yang mendominasi dalam suatu suku bangsa atau paling menonjol di antara tujuh unsur kebudayaan universal : religi; bahasa; sistem pengetahuan; sistem mata pencaharian; sistem peralatan hidup; sistem sosial; dan kesenian.

Unsur dominan itu akan mempengaruhi unsur-unsur kebudayaan lainnya dan sangat diminati oleh masyarakat suku bangsa tersebut. Dalam masyarakat Aceh, religi atau agama adalah fokus kebudayaan itu, otentik menjadi semacam “kepribadian umum”, membentuk emosi keagaman masyarakat Aceh yang kuat dan kental, hingga mengonstruksi penabalan identitas masyarakat Aceh dimata oustider sebagai masyarakat yang religius, agamis, dan fanatik dengan agamanya, Islam.

Inilah yang menjadikan Aceh unik dibanding suku-suku lainnya di Indonesia. Aslam Nur dalam publikasinya “Agama Islam dan Budaya Islami Sebagai Benteng Jati Diri Bangsa di Era Global” mengemukakan, unsur keagamaan orang Aceh dapat ditemui dalam enam unsur kebudayaan universal lainnya di Aceh.

Orang Aceh memegang teguh pedoman islam sebagai the way of life, jalan hidup, seperti ditegaskan dalam hadih maja (pepatah Aceh_pen): “Adat ngon hukom lagee zat ngon sifeuet”: adat dan hukum tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Ungkapan ini menegaskan kebudayaan orang Aceh yang sejalan dengan aturan agama nilai-nilai Islam.

Spirit Islam mengalir dalam seluruh lini kehidupan orang Aceh jauh sebelum diberlakukan Syariat Islam. Semenjak syiar Islam pertama kali masuk ke Nusantara, Aceh menjadi daerah pertama yang menerima Islam. Agama Islam lantas mendominasi nilai-nilai kehidupan masyarakat Aceh sehingga menjadi fokus kebudayaannya.

Eksistensi kebudayaan Aceh yang Islami tak lepas dari estafet pewarisan kebudayaan itu sendiri. Transfer kebudayan dari satu generasi ke generasi disampaikan melalui tiga institusi utama yaitu keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Jika tiga institusi ini tetap terjaga baik, setiap pergerakan yang bersifat negatif, termasuk adanya penyelewengan dalam memahami agama Islam, dapat terdeteksi sejak dini dan dicarikan solusi untuk mencegahnya.

Sebagai contoh, transfer dan pewarisan nilai-nilai budaya Islam dalam kehidupan berumah tangga dalam masyarakat Aceh. Syiar islam dimulai ketika sepasang pengantin akan melakukan akad pernikahan. Kemudian berlanjut dalam proses awal menjalani kehidupan rumah tangga. Ketika sang istri hamil, pesan-pesan syar’i langsung diperkenalkan kepada janin dalam kandungan. Begitu melahirkan, sang bayi diperdengarkan azan yang dikumandangkan oleh ayahnya.

Keberadaan seorang anak menghasilkan pembagian tugas dan tanggungjawab antara ayah dan ibu. Ayah sebagai kepala rumah tangga bertugas di luar rumah untuk mencari nafkah, sementara ibu bertanggung jawab mengatur internal rumah tangga dan pendidikan anak di rumah. Ayah berperan sebagai pendamping peran ibu dalam mendidik dan mengatur rumah tangga.

Sebab itu, dasar-dasar pengetahuan agama seorang anak Aceh didapat dari keteladanan dan pengetahuan yang diberikan ibu dan ayahnya. Pendidikan islam pun terus dicurahkan hingga ia tumbuh dewasa dan berumah-tangga. Sementara itu pada lingkup sosial yang lebih luas, tiga praktik dan tradisi religius berikut ini juga sangat berpengaruh dalam  menanamkan nilai-nilai keIslaman kepada setiap generasi di Aceh.

A. Meudagang

Seorang anak Aceh ketika memasuki usia remaja, diharapkan untuk menjalani hidup meudagang. Ini merupakan tradisi meninggalkan kampung halaman untuk belajar ilmu agama dan menetap di dayah (pondok pesantren_pen). Meudagang akan terjadi bila seorang anak keluar dari lingkungan budaya, kampung asal, dan kaum kerabatnya lalu pergi belajar ke suatu tempat baru. Di dayah itu ia bertindak sebagai seorang muslim yang mandiri dan tak diperlakukan sebagai kaum kerabat oleh lingkungan sosialnya.

Bustami Abubakar dalam buku “Ensiklopedia Kebudayaan Aceh” mencatat, tradisi meudagang merupakan perjalanan intelektual paling penting dalam sistem pendidikan yang dijalani para ulama di Aceh. Tradisi ini telah mengantar para ulama Aceh mampu melahirkan berbagai gagasan pembaharuan yang kemudian dapat mewarnai usaha modernisasi di Aceh.

Seorang Aceh ketika meudagang akan mengalami proses transformasi dalam bidang keagamaan. Ia yang awalnya masyarakat awam berubah jadi seorang ulama. Mereka akan mencapai fase ini setelah belajar di dayah selama bertahun-tahun, misal selama 12 – 14 tahun, atau ketika ia dapat dianggap telah menguasai ilmu agama dan mampu menjadi seorang teungku/ulama saat kembali ke kampung halamannya untuk mengajari masyarakat.

B. Meudrah

Orang Aceh juga belajar ilmu agama dengan mengikuti meudrah. Aktivitas ini dilakukan anggota masyarakat yang tak lagi memiliki waktu khusus untuk tinggal di dayah. Mereka akan membuat pengajian bersama yang dipimpin seorang teungku. Misri A Muchsin dalam buku “Ensiklopedia Kebudayaan Aceh” menyebut, peserta meudrah biasanya mendatangi tempat pengajian atau teungku di sebuah dayah, pada malam atau hari tertentu. Teungku akan merujuk pada kitab-kitab dengan fokus kajian pada bidang ketauhidan, akidah, ibadah, muamalah, jinayat dan siyasah.

Meudrah berlangsung singkat, antara 2 – 4 jam. Teungku membahas satu topik dalam kitab tertentu, kemudian peserta diberikan kesempatan berdiskusi, menanyakan persoalan yang masih belum jelas baginya. Semua peserta memiliki hak yang sama untuk berdiskusi, tanpa dibatasi usia dan jenis kelamin. Teungku selanjutnya memberi jawaban atau penjelasan tambahan secara maksimal, sehingga ulasannya menjadi dasar bertindak dan beramal bagi peserta meudrah dalam kehidupan sehari-hari.

C. Meudoa

Salah satu tujuan penting dari dua tradisi religi orang Aceh dalam meudagang atau dan meudrah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini, orang Aceh selalu mengutamakan rutinitas meudoa dalam melakukan setiap aktivitas kehidupan di dunia untuk mendapatkan riza dan berkah dari Allah SWT. Selain memohon pada Allah, orang Aceh juga meminta doa pada orang tuanya demi kesuksesan setiap usaha yang dilakukannya.

Di luar tiga contoh itu, masih banyak tradisi orang Aceh berlandaskan nilai-nilai Islam, yang mungkin sebutannnya berbeda antara satu etnis dengan etnis lainnya. Misal ada tradisi Antat Beuet bagi anak usia dini yang baru pertama kali memulai pendidikan agama di meunasah/pesantren, kebiasaan anak muda meudaruh di malam bulan puasa Ramadhan, meurateb untuk berzikir, meudikee pada perayaan kenduri maulid nabi, dan peulheueh kaoy untuk memenuhi nazar.

Estafet pewarisan tradisi yang islami tersebut mengandung harapan agar Aceh menjadi negeri yang makmur berdasar pondasi Islam yang kuat, seperti dilakukan para leluhurnya semenjak Islam berlabuh di tanah Aceh. Lantas sadarkah orang Aceh hari ini, seberapa jauh mereka menjalani hidup dengan memegang teguh nilai-nilai Islam sebagaimana dilakukan para pendahulu?

© 2018 Pekan Kebudayaan Aceh. All Rights Reserved