Bahasa & Sastra Aceh | Sebagai Ruang Edukasi

Kegiatan meudagang dan meudrah masyarakat Aceh mungkin takkan berhasil menciptakan kebudayaan yang islami bila tanpa menggunakan Bahasa Arab Jawi dalam proses pendidikannya. Berawal dari Aceh, bahasa ini kemudian menjadi bahasa orang-orang Dunia Melayu Raya.

Berkembangnya bahasa Arab Jawi tak terlepas dari proses Islamisasi sejak Islam masuk ke Aceh. Nilai-nilai islam yang dibawa pedagang Timur Tengah dan Asia tak hanya mempengaruhi kepercayaan, tetapi juga mengubah banyak aspek sosio-kultural masyarakat Aceh, termasuk dalam hal penggunaan bahasa sehari-hari.

Orang Aceh mulai mengenal huruf Arab melalui Kitab Suci Alquran. Lama kelamaan, aksara arab ini mengalamai proses sinkretik dengan bahasa lokal, dimana bahasa Aceh ditulis menggunakan huruf Arab, hingga kemudian dikenal bahasa Arab Jawi atau orang Aceh menyebutnya bahasa Arab Jawoe. Merujuk pada Syed Muhammad Naguib al-Attas, dalam bukunya Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (1990), mengungkapkan, “Jawi” ialah sebutan orang Arab pada masa itu untuk “negeri-negeri di bawah angin” yaitu wilayah Nusantara atau Asia Tenggara. Hingga abad 16 – 17 Masehi, bahasa Melayu disebut dengan istilah “Bahasa Arab Jawi” karena ditulis dalam huruf Jawi, yakni huruf Arab yang telah disesuaikan dengan ucapan atau lidah masyarakat Nusantara. Sebutan Arab Melayu baru dipopulerkan sejak abad 18.

Sementara “Melayu” menggambarkan entitas bahasa dan suku-suku bangsa yang berdiam di wilayah Dunia Melayu Raya. Merujuk pada bahasa, yaitu Bahasa Melayu, itu merupakan bahasa kebangsaan di Malaysia dan Bahasa Melayu di Indonesia. Dari segi etnisitas, Melayu meliputi alam yang luas: kawasan-kawasan selatan Thailand, Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, hingga Filipina.

Pada fase perkembangannya, bahasa Arab Jawi ini dikembangkan untuk memproduksi dan menyebarkan ilmu pengetahuan, terutama pesan-pesan moral keagamaan. Adalah kelas Ulama yang berperan penting dalam mempromosikan aksara Arab Jawi. Ulama Aceh dikenal dengan kemampuan literasinya, mereka adalah ulama-ulama intelektual yang sangat menonjol dalam hal literasi dan sangat produktif menulis berbagai kitan.

Menurut telaah budayawan Aceh, TA Sakti, adalah Abu Ishak Al Makarany, penulis kitab Idhharul Haq fi Mamlakatil Perlak wal Pasy, berisi sejarah Kerajaan Peureulak dan Pasai, yang pertama sekali memperkenalkan aksara Arab Jawi. Kitab ini ditulis dalam huruf Arab Jawi hingga menginsipirasi ulama-ulama lainnya untuk menggunakan Bahasa Arab Jawi dalam menulis kitab-kitab mereka. Akhirnya penggunaan bahasa Arab Melayu ini berkembang menjadi tradisi. Menurut UU? Hamidy, para ulama Aceh menyebarkan pemakaian tulisan Arab Melayu secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka karena bahasa Arab Jawi mudah dipelajari oleh khalayak antar bangsa di Asia Tenggara.

Penggunaan Bahasa Arab Jawi pun tersebar mulai dari Aceh di barat hingga ke seberang samudera India, Madagaskar, sebagaimana proses penyebaran Islam pada awalnya. Selama abad 15 – 16 M, Bahasa Jawi menjadi lingua franca, bahasa penghubung masyarakat di Asia Tenggara.

Bahasa Aceh

Jauh sebelum berkembangnya Bahasa Arab Melayu, bangsa Aceh telah bertutur dengan Bahasa Aceh yang lebih tua. Bahasa Aceh menurut sejumlah penelitian, diduga berasal dari bahasa-bahasa Campa yang sampai kini masih digunakan di Vietnam, Kamboja, dan Hainan di Cina.

Orang Campa memasuki dan menetap di Nusantara sekitar tahun 1500 SM, pada masa migrasi besar-besaran suku bangsa Austronesia, seperti dicatat sejarawan Belanda Van Heine. Di Indonesia, mereka menyebar dan berbaur dengan suku pribumi hingga ke Aceh. Dari sinilah mulanya Bahasa Aceh berkaitan erat dengan Bahasa Campa atau Mon Khmer di Kamboja sekarang, hingga ratusan istilah dalam Bahasa Aceh memiliki kesamaan bunyi dan makna dengan kata-kata dalam bahasa Campa.

Namun dalam perkembangannya, Bahasa Aceh juga dipengaruhi oleh sejumlah bahasa Nusantara dan bahasa internasional yang berasal dari para pedagang. Sejumlah bahasa lain pun muncul karena akulturasi dengan budaya dari suku pendatang. Latar sejarah yang beragam ini, menjadikan Aceh termasuk bangsa yang kaya bahasa; baik dari segi kosakata, fonem, hingga bentuk tulisan dan pengucapannya. Sebagaimana kita tahu, orang Aceh terdiri dari 13 suku yang tersebar di beberapa wilayah budaya. (Baca: Siapakah Orang Aceh Sebenarnya) Karena itu, Aceh memiliki 13 bahasa daerah Aceh, yaitu bahasa yang digunakan oleh suku-suku dari berbagai daerah di Aceh.

Bahasa Aceh dituturkan oleh suku mayoritas yaitu Suku Aceh yang mendominasi bagian utara dan timur Aceh; Bahasa Gayo dituturkan oleh masyarakat Gayo di kawasan pegunungan bagian tengah Aceh dan sekitarnya; Bahasa Alas dituturkan Suku Alas yang mendiami kawasan Aceh Tenggara dan sekitarnya; Bahasa Aneuk Jamee dituturkan Suku Aneuk Jamee di sebagian Kabupaten Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan sekitarnya; Bahasa Kluet milik Suku Kluet yang mendiami Kabupaten Aceh Selatan dan sekitarnya; Bahasa Melayu Tamiang dituturkan oleh Suku Tamiang yang mendiami Kabupaten Aceh Timur dan sekitarnya.

Selanjutnya ada Bahasa Devayan, Bahasa Sigulai, dan Bahasa Lekon yang digunakan oleh Suku Devayan, Suku Sigulai, dan Suku Lekon di Kabupaten Simeulue; kemudian ada Bahasa Batak Singkil, Bahasa Pakpak Singkil, dan Bahasa Julu, digunakan oleh masyarakat dari tiga suku yang sama dengan nama bahasanya itu di Kabupaten Singkil dan Subulussalam; serta Bahasa Haloban milik Suku Haloban di Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Singkil.

Sastra Aceh

Kesusastraan Aceh dipengaruhi kuat oleh aspek kebahasaan luar yang kemudian diterima dan yang digunakan oleh orang Aceh. Peninggalan sastra Aceh kebanyakan dalam bentuk tulisan Arab Jawi dapat dilihat pada sastra hikayat, nadham, tambeh, dan syair. Selain itu, sastra Aceh dalam bentuk lisan juga beragam, seperti seumapa, meupanton, hadih madja, dan hiem. Hikayat aceh adalah hikayat yang digubah dalam bahasa Aceh. Mohd. Harun dalam “Ensiklopedia Kebudayaan Aceh” menerangkan, semua hikayat aceh menggunakan bahasa berirama atau bersajak atau berbentuk puisi, sementara isinya berbentuk prosa. Karena itu, hikayat aceh tergolong prosa lirik, yakni isinya prosa, tetapi bentuknya puisi.

Hikayat aceh dapat dinyanyikan dengan berbagai irama sesuai rima dan irama yang serasi. Inilah sebabnya hikayat sangat digemari masyarakat sebagai salah satu bentuk hiburan dan bahan pembelajaran yang dibacakan pada berbagai kesempatan.

Menariknya, hikayat aceh bisa disampaikan dengan dua lagu (lagee/langgam) utama, yakni lagee aceh yang dibaca cepat dan lagee pidie dengan tempo lambat. Model baca hikayat ini dapat dimodifikasi sesuai selera pembaca, sepanjang pembaca dapat mempertahankan gaya khasnya. Yang penting, dalam satu bait tidak boleh menggunakan dua macam lagu.

Dilihat dari isinya, hikayat aceh memiliki beberapa jenis, yaitu hikayat agama, hikayat cerita, hikayat sejarah, hikayat safari atau muhibah, hikayat perang, hikayat undang-undang, dan hikayat biografi.

Hikayat aceh terkenal pada masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam, sekitar abad 16 – 17 Masehi. Pada periode ini, sultan-sultan di Aceh dibimbing beberapa ulama kaliber dunia, yaitu Hamzah Fansury, Syamsudin As-Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Abdurrauf As-Singkily atau Syiah Kuala. Keempat ulama Aceh ini menulis banyak karangan, baik dalam bahasa Arab Jawi maupun bahasa Arab, yang beredar ke seluruh Asia Tenggara dan dunia Islam lainnya.

Beberapa hikayat aceh yang terkenal antara lain: Hikayat Meudeuhak, tentang peran para penasihat dalam kepemimpinan; Hikayat Banta Keumari, tentang sikap saling membantu dalam perjuangan hidup akan menghasilkan kebahagiaan bersama; Hikayat Tajussalatin, membicarakan sejumlah pedoman bagi para pemimpin; Hikayat Akhbarul Karim, menjelaskan mengenai ilmu fiqh, tasawuf dan ilmu tauhid; Nadham Ruba’i, membahas banyak hal ajaran Islam secara ringkas; Tambeh Tujoh Blah, berisi 17 bab yang membahas masalah hubungan dengan Allah, hubungan sesama manusia dan dengan binatang/lingkungan hidup; Resep Obat Orang Aceh atau Kitab Tajul Muluk; dan Hikayat Malem Dagang, menceritakan pelayaran Sultan Iskandar Muda bersama pasukannya menyerang Raja Si Ujut di Malaka.

Dalam sastra lisan, orang Aceh juga tampak menononol mereka sering menyelipkan hadih madja dalam setiap interaksi sosialnya. Hadih maja merupakan puisi lisan Aceh yang terdiri atas berbagai jenis, seperti pantun, syair, peribahasa, pepatah, perumpamaan, tamsil, ibarat, dan pameo. Nama lain hadih maja adalah narit maja. Sebagian isi hadih maja mengacu pada sumber-sumber Islam atau terjadi proses islamisasi.

Contoh hadih madja paling sering digunakan sebagai pedoman hidup masyarakat Aceh ialah “Adat bak Po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala, qanun bak putroe phang, reusam bak laksamana”. Secara harfiah hadih madja itu menurut penulis sejarah Aceh, Iskandar Norman, bermakna : Adat bak Po Teumeureuhom ditamsilkan kepada Sultan sebagai imam malikul adil yang mengepalai kerajaan, pemegang kekuasaan politik dan kepala pemerintahan (eksekutif); Hukom bak Syiah Kuala disandarkan pada nama ulama Syeikh Abdur Rauf As Singkili (Tgk Syiah Kuala) yaitu mufti kerajaan atau Kadli Malikul Adil pemegang kekuasaan yudikatif atau layaknya Mahkamah Agung; Qanun bak Putro Phang untuk menegaskan kekuasaan rakyat dalam membuat undang-undang (legislatif), Putroe Phang pelopor pembentukan Balai Majelis Mahkamah Musyawarah Rakyat diisi oleh wakil-wakil rakyat dari berbagai daerah federasi kerajaan Aceh; dan Reusam bak Laksamana menegaskan kekuasaan dalam keadaan darurat berada di tangan Menteri Peperangan (Wazirul Harb) yang disebut sebagai Laksamana. Jadi hadih maja merupakan manifestasi nilai-nilai ideal yang menggambarkan world view hingga menjadi falsafah hidup orang Aceh.

Orang Aceh juga menggunakan etika komunikasi dengan sesama makhluk, dengan melakukan Seumapa. Kata seumapa berasal dari bahasa Aceh, sapa-seumapa, yang berarti bersapa-sapaan. Seumapa adalah sebuah seni tutur antara kedua belah pihak yang biasanya dipraktikkan pada acara pernikahan atau pesta perkawinan, ada juga yang digunakan ketika sedang berada di hutan rimba, atau saat menghadapi binatang buas.

Seumapa dalam upacara perkawinan biasanya dilakukan pada prosesi Intat Linto Baro (mempelai pria) ke rumah Dara Baro (mempelai wanita). Sebelum serah-terima pengantin, masing-masing satu atau dua orang dari kedua belah pihak melakukan seumapa; sekilas seperti berbalas pantun tentang maksud dari upacara pernikahan dan perkawinan itu. Mereka melakukannya tanpa membaca teks alias spontan yang membuat pendengar terhibur.

Tradisi seumapa juga dilakukan seorang Aceh tertentu dalam memperlakukan lingkungan hidup, baik dengan pepohonan maupun hewan. Ahli pembuat Gendang Rapai Pase di Aceh Utara misalnya, akan melakukan seumapa sebelum menebang atau mengambil bagian batang dari pohon tertentu, mengharap riza Allah dan “keikhlasan” pohon itu, sehingga ketika nantinya ditabuh Rapai menghasilkan bunyi yang merdu.

Kebiasaan seumapa juga dilestarikan oleh petani lebah di Buloh Seuma, Aceh Selatan (Aceh Tourism Magazine: 2014). Petani tidak sembarangan menyayat batang pohon dan memanjat pohon yang memiliki sarang lebah. Sebelum memanjat, orang tersebut lebih dulu bertutur dengan pohon mengenai tujuannya mengambil madu.

Ada banyak keunikan bahasa dan sastra Aceh lainnya. Bahasa dan sastra itu kemudian menjadi media mentransfer ilmu pengetahuan agama dan umum, dari generasi ke generasi Aceh, dengan harapan bangsa Aceh tetap hebat dengan adat dan budayanya yang bersyariat.

© 2018 Pekan Kebudayaan Aceh. All Rights Reserved