Taman Sulthanah Safiatuddin, 5-15 Agustus 2018

Abdya: Sejumlah Situs Daerah Akan dikenalkan di PKA VII

BLANGPIDIE – Situs bersejarah bernilai tinggi yang tersebar di sejumlah lokasi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dalam kondisi memprihatinkan akibat tidak terurus sehingga nyaris tidak dikenali lagi.

“Masih cukup banyak peninggalan sejarah bernilai tinggi di Abdya tak dikenali masyarakat. Situs sejarah yang terangkat (sudah dikenali) hanya sekitar 30 persen, selebihnya tidak terurus dan nyaris tak dikenali lagi,” kata Bustami Anwar, Budayawan Abdya kepada Serambi, Jumat (6/7).

Situs tersebut dikhawatirkan akan lenyap sehingga sejarahnya tidak pernah diketahui generasi mendatang.

Pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang dijadwalkan 5-15 Agustus mendatang di Banda Aceh, diharapkan menjadi momentum kebangkitan kesadaran dan kepedulian terhadap peninggalan bersejarah. Sebab, situs-situs tersebut terutama di Abdya tidak mendapat perhatian kurun waktu sangat lama.

Bustami Anwar mencontohkan di kawasan Desa Lama Tuha, Kecamatan Kuala Batee, menyimpan banyak peninggaran sejarah bernilai tinggi. Kawasan pesisir ini merupakan kawasan bekas Kerajaan Lama Tuha, Kerajaan Lama Muda, dan Kerajaan Kuala Batee.

Peninggalan sejarah, seperti madat, makam dengan nisan yang sdah dibalut hutan rawa. Sebelumnya, senjata meriam banyak ditemukan di kawasan Desa Lama Tuha. Namun sekarang ini tidak diketahui lagi keberadaannya, kecuali satu meriam ukuran lumayan besar yang bisa ditemukan tidak jauh dari aliran Krueng (Sungai) Batu.

Di Lama Tuha juga terdapat makam Shewbuntar seorang tentara berpangkat tinggi dari Portugis. Prasasti makam Shewbuntar yang bertulis dalam bahasa Portugis dapat dilihat di halaman SD Negeri Lama Tuha.

Selain itu, kata Bustami masih banyak peningalan sejarah tidak mendapat perhatian pemerintah, terutama makam ulama yang berjasa mengembangkan agama Islam, makam pejuang yang berjasa berperang dengan Belanda, rumah raja termasuk peninggalan sejarah yang sebenarnya dapat dikembangkan menjadi objek wisata.

Makam ulama yang tidak terurus antara lain, kuburan alm Tgk Awe Geutah di Desa Geulumpang Payong, Blangpidie, alm Tgk Drien Puntong di Desa Pantee Cermin, Babahrot, kuburan alm Tgk Di Leubok di Desa Seunaloh, Blangpidie.

Makam pejuang yang dilupakan antara lain kuburan Sahid Siekurueng di Desa Alue Rambot, Kecamatan Jeumpa, kuburan Utoh Mahyuddin yang dalam areal sawah antara Desa Moen Mameh dengan Desa Ie Lhop, Kecamatan Tangan-Tangan.

Peninggalan sejarah yang sangat potensial dikembangkan sebagai objek wisata, tapi luput dari perhatian antara lain Kolam Pemandian Putroe Aloeh di Alue Laseh, Kecamatan Jeumpa, Batee Sanding Putroe di kawasan pengunungan Desa Gunoeng Cut, Kecamatan Tangan-Tangan serta Goa Seumancang di Desa Babah Lhueng, Kecamatan Blangpidie.

Alokasikan Anggaran

Bustami Anwar berharap Pemkab Abdya dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat mengalokasikan anggaran perawatan sejumlah peninggalan sejarah untuk kepentingan generasi mendatang.

Baik untuk membenahi maupun memugar makam ulama dan pejuang yang sangat berjasa serta peninggalan sejarah yang bisa dikembangkan sebagai objek wisata budaya.

Author

Post a comment